
Ini tulisan pertama sejak pembaruan akun saya “Hawin Murtadlo Penerjemah” menjadi “Hawin Murtadlo: Dunia Buku”. Rasanya seperti membuka kembali sebuah buku lama, lalu menemukan halaman-halaman yang ternyata masih menyimpan banyak cerita.
Di sini saya ingin kembali berbagi gagasan, pengalaman, dan mungkin sedikit kegelisahan tentang dunia yang sejak lama saya kenal: dunia buku.
Bukan kebetulan kalau sejak nyantri di Ngruki hingga kini beranak cucu, saya selalu berkutat dengan buku. Dari menulis, menerjemahkan, mencetak, menerbitkan, sampai memasarkannya. Pendek kata, saya pernah berada di hampir semua mata rantai perjalanan sebuah buku: dari gagasan yang masih berserakan di kepala sampai ia berpindah ke tangan pembaca.
Sahabat.
Dunia Buku di Tengah Perubahan Zaman
Hari ini banyak orang mengatakan bahwa dunia buku sedang lesu. Alasannya, teknologi informasi berkembang pesat, sehingga peran buku dan majalah cetak sudah tergantikan oleh medsos dan e-book. Saya tidak sepenuhnya setuju.
Memang benar, teknologi informasi sudah banyak berubah. Hal itu mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia di zaman sekarang.
Orang yang dahulu datang ke toko buku, sekarang bisa membeli buku dari tempat tidur. Yang dahulu membaca berlembar-lembar kertas, kini sebagian berpindah ke layar komputer, laptop, atau gadget. Cara orang menemukan buku, merekomendasikan buku, bahkan cara penerbit menjual buku pun berubah.

Perubahan Membawa Kesempatan Baru
Tetapi bukankah perubahan memang selalu membawa dua sisi?
Ada kesempatan hilang. Namun terbuka pula kesempatan baru.
Di balik toko-toko buku yang gulung tikar, ternyata lahir saudagar-saudagar buku baru. Di balik sepinya pembeli di toko buku pasar tradisional maupun pasar modern, muncul pasar-pasar baru di dunia digital. Dan jangan salah, pada kondisi tertentu, penjualan sebuah buku hari ini bahkan bisa mencapai berkali-kali lipat dibandingkan masa sebelum teknologi informasi berkembang seperti sekarang.
Jadi, masalahnya bukan semata-mata apakah dunia buku masih memiliki masa depan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah kita mau belajar untuk menemukan cara baru?
Jangan Hanya Mengeluhkan Zaman
Di sinilah saya kira pelajaran pentingnya.
Sering kali kita terlalu sibuk meratapi keadaan, sampai lupa mencari peluang yang bersembunyi di balik keadaan itu. Kita mengatakan, “Zaman sekarang sulit.” Mungkin benar. Tetapi bukankah hampir setiap zaman memang memiliki kesulitannya sendiri?
Dulu orang mengeluh karena tidak ada mesin cetak yang murah. Kemudian mengeluh karena distribusi sulit. Setelah itu mengeluh karena toko buku terbatas. Sekarang ketika teknologi membuat distribusi jauh lebih mudah, kita mengeluh karena persaingan semakin banyak.
Santri Harus Belajar Membaca Zaman
Kesulitan berubah bentuk. Tetapi kesempatan juga berubah bentuk. Karena itu, seorang pemuda—terlebih seorang santri—tidak boleh hanya pandai mengeluhkan zaman. Para pejuang buku tidak boleh berhenti update skill di bidang teknologi informasi. Santri harus belajar membaca zaman sebagaimana ia belajar membaca kitab. Bukan untuk tunduk kepada zaman, tetapi agar tahu bagaimana menghadapi zaman.
Ada ilmu baru yang harus dikuasai. Ada keterampilan baru yang harus dipelajari. Ada kebiasaan lama yang mungkin tidak relevan untuk dipertahankan. Dan ada keberanian yang harus ditumbuhkan.

Adaptasi Tidak Berarti Kehilangan Prinsip
Dunia berubah sangat cepat. Orang yang tidak mau belajar akan tertinggal. Orang yang merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya akan kesulitan mengejar perubahan. Sementara orang yang mau terus belajar memiliki peluang untuk tetap survive di tengah tantangan perubahan.
Adaptasi bukan berarti kehilangan prinsip. Ini penting.
Seorang santri boleh belajar teknologi, tetapi tidak harus kehilangan adab. Boleh belajar digital marketing, tetapi tidak harus meninggalkan kejujuran. Boleh menggunakan kecerdasan buatan, tetapi tetap harus memiliki kecerdasan manusiawi. Boleh masuk bekerja dalam urusan dunia, tetapi jangan kehilangan orientasi akhirat.
Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan ke mana alat itu digunakan adalah manusia yang memegangnya. Karena itu, jangan takut dengan perubahan. Takutlah kalau kita berhenti belajar.
Jangan terlalu lama menangisi pintu yang tertutup. Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita kepada pintu lain yang belum pernah kita lihat. Bukankah kehidupan sering kali bekerja seperti itu?
Dalam Kesempitan Ada Kesempatan
Ketika satu jalan menyempit, kita dipaksa mencari jalan lain. Ketika cara lama tidak lagi efektif, kita dipaksa berpikir. Ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan, kita dipaksa menjadi lebih kreatif. Dan terkadang, justru dari situlah lahir kemampuan yang sebelumnya tidak pernah kita tahu ada dalam diri kita.
Maka, wahai anak muda. Jangan mudah menyerah hanya karena keadaan tidak berpihak kepadamu. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa masa depanmu suram hanya karena hari ini terasa berat. Jangan mengatakan, “Saya tidak punya kesempatan,” sebelum benar-benar berusaha mencarinya.
Barangkali kesempatan itu tidak datang dalam bentuk yang kamu inginkan. Barangkali ia datang dalam bentuk masalah. Dalam bentuk keterbatasan. Dalam bentuk kegagalan. Dalam bentuk perubahan zaman yang semula membuatmu takut.
Melihat Peluang di Balik Masalah
Berpikirlah positif. Bukan berarti menutup mata dari masalah. Berpikir positif berarti melihat masalah dengan jernih, lalu bertanya:
“Apa yang bisa saya pelajari?”
“Apa yang bisa saya lakukan?”
“Apa yang bisa saya perbaiki?”
“Di mana peluang yang tersembunyi di balik keadaan ini?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali lebih produktif daripada sekadar mengeluh.
Saya sendiri belajar dari dunia buku bahwa sebuah buku tidak akan sampai kepada pembaca hanya karena ia telah selesai ditulis. Ia harus dicetak. Harus dikemas. Harus diperkenalkan. Harus dipasarkan. Dan pada setiap tahap selalu ada persoalan. Tetapi persoalan bukan alasan untuk berhenti. Ia adalah bagian dari perjalanan.

Sebuah Buku Adalah Sebuah Perjalanan
Mungkin demikian pula kehidupan kita. Jangan menunggu keadaan menjadi mudah untuk mulai bergerak. Belajarlah bergerak di tengah kesulitan. Belajarlah tumbuh di tengah keterbatasan. Belajarlah mencari cahaya ketika keadaan terasa gelap.
Sebab boleh jadi, sesuatu yang hari ini kita sebut sebagai kesempitan, beberapa tahun kemudian justru kita kenang sebagai kesempatan. Dan siapa tahu, perubahan zaman yang hari ini membuat kita cemas, justru kelak menjadi jalan yang mengantarkan kita kepada sesuatu yang jauh lebih besar.

Tetap Belajar, Membaca, dan Berkarya
Jadi, tetaplah belajar. Tetaplah membaca. Tetaplah mencoba. Tetaplah berkarya. Dan yang paling penting, jangan mudah menyerah. Sebab selama kita masih mau belajar dan bergerak, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan.
Dalam kesempitan, ada kesempatan. Tinggal apakah kita memilih menjadi orang yang hanya melihat sempitnya jalan, atau menjadi orang yang mau mencari jalan keluar.
Semoga Allah memudahkan saya menyajikan tulisan-tulisan berikutnya agar bisa menjadi ruang kecil untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan pelajaran dari perjalanan panjang bersama buku.
Mari kita mulai lagi.
Satu halaman demi satu halaman.
Terus Belajar, Terus Berkarya
Dunia terus berubah. Karena itu, kita perlu terus belajar, membaca, dan menemukan cara baru untuk berkarya.
Ikuti tulisan-tulisan berikutnya tentang dunia buku, pendidikan, dakwah, dan berbagai gagasan seputar kehidupan dan usaha halal di Bisnis Halal Solo Raya.